Rabu, 11 Juli 2012

Pengaruh Hubungan Nama Dengan Harapan Orang Tua


BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang Masalah
            Penelitian Sosiolinguistik merupakan kajian yang banyak diminati oleh para linguis. Hal ini mungkin saja disebabkan adanya fenomena bahwa baik bahasa maupun kehidupan sosial dan budaya dalam masyarakat bersifat dinamis yang selalu bergerak. Sifat kedinamisan ini membuat para ahli bahasa, baik dan luar maupun dalam negeri, tertarik untuk menelitinya.
            Pada kajian penelitian sosiolinguistik, penulis mencoba meneliti bahasa yang dikaitkan dengan prilaku orangtua muslim dalam memberi nama anak sebagai identitas diri dan harapan untuk menjalani kehidupan sosial dan budaya di masyarakat.
            Manusia sebagai makhluk sosial dan pengguna bahasa, nama merupakan sebuah bahasa komunikasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Nama merupakan kata- kata yang menjadi label pada setiap makhluk, benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia ini (Djajasudarma, 1993: 30).
            Karna nama merupakan bahasa komunikasi manusia, maka penamaan anak oleh orangtua akan berbeda-beda antara orangtua yang satu dengan yang lainnya. Nama anak merupakan bahasa yang mewakili bahasa fikiran orangtua yang terasosiasi dengan lingkungannya. Setiap orangtua memiliki alasan dan harapan tersendiri pada nama yang diberikan kepada anaknya. Ada banyak faktor yang melandasi penamaan anak oleh orang tua, seperti nama gabungan, idealisme, publik pigur, tokoh pewayangan, harapan, dan bahkan nama anak yang dipakai terkadang diberikan orang tua karna terdapat suatu kaitan dengan peristiwa tertentu.




1.2       Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.      Bagaimana nama anak di Kelas 4 dan 5 SD Neglasari Jatinangor?
2.      Bagaimana harapan orangtua muslim terhadap nama anaknya di Kelas 4 dan 5 SD Neglasari Jatinangor?
3.      Bagaiman hubungan nama anak dengan harapan orangtua muslim di kelas 4 SD Neglasari Jatinangor?

1.3       Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bagaimana nama anak di kelas 4 dan 5 SD Neglasari Jatinangor;
2.      Mengetahui bagaimana harapan orangtua muslim terhadap anaknya di kelas 4 dan 5 SD Neglasari Jatinangor;
3.      Mengetahui bagaimana hubungan antara nama anak dengan harapan orangtua muslim di kelas 4 SD Neglasari Jatinangor.

1.3.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan penulis bisa mengetahui dan menarik kesimpulan dari kajian sosiolinguistik terhadap hubungan nama anak dengan harapan orangtua muslim di kelas 4 dan5 SD Neglasari Jatinangor.











BAB II
LANDASAN TEORI


2.1  Fungsi dan Kedudukan Nama
             Kedudukan nama dalam kehidupan manusia berfungsi sebagai identitas dan penjaga hubungan sosial sehingga kelangsungan komunikasi antar manusia yang satu dengan yang lainnya menjadi lancar. Hal ini sebagaimana Halliday (1973) memandang fungsi bahasa sebagai interaksional, yaitu fungsi yang mengacu pada pembinaan mempertahankan hubungan sosial antar penutur dengan menjaga kelangsungan komunikasi.
            Dalam memberikan nama anak, setiap orangtua memiliki tujuan dan  harapan tersendiri sebagai implementasi fikirannya. Nama seorang anak seperti halnya bahasa bisa memberikan gambaran jalan pikiran dari  orangtuanya. Hipotesis Sapir-Whorf yang bila disederhanarkan akan berarti bahwa jalan pikiran manusia dibentuk oleh bahasa yang dipakainya atau bahasa menentukan cara dan jalan pikir manusia (Anwar, 1984:86 dan 1994:14). Lebih jauh dijelaskan Anwar, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari suatu bangsa akan mempunyai jalan pikiran yang berbeda pula. Perbedaan-perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia berhulu dari perbedaan. Tanpa adanya bahasa, manusia tidak mempunyai pikiran sama sekali.  
            Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri pemilik namanya.
            Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Hal ini  dikarnakan orangtua hawatir ketika nama anaknya dipanggil didepan umum, ternyata ada banyak anak yang menoleh karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orang tua seperti ini memiliki alasan, bahwa anaknya kelak ketika dipanggil akan memakai nama bapaknya di belakang namanya. Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.
            Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk anak mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya.
            Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.
            Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan bagi pemilik nama. Para calon orangtua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak. Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:
1.                  Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).
            Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”
2.                  Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:
a.      Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurkan, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
b.      Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
c.      Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.
Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:
a.      Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang;
b.      Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negative;
c.      Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.
            Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.
            Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.
            Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi anaknya sendiri.
            Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.
            Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?
            Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.
            Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti.

2.2  Urgensi Pemberian Nama Terbaik di Pandang dari Sudut Pandang Islam.
            Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim.Makna isim bisa jadi adalah alamat (tanda).Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang. Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya.
            Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut.
            Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ
"Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya."
           
Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan adalah nama yang terbaik, maka atsarnya (pengaruhnya) pun baik. Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa nama yang terbaik adalah Abdullah karena nama tersebut menunjukkan penghambaan murni pada Allah. Begitu pula, dalam beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang memberi nama dengan nama yang buruk seperti Ashiyah (wanita yang bermaksiat, dengan huruf ain dan shod), Hazn (sedih) dan Zahm (sempit).
            Intinya, nama begitu pengaruh dalam diri orang yang diberi nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak diberi nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terus-terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. Itulah urgensi penting dalam pemberian nama bagi seorang anak.
            Pengaruh lainnya lagi, dari nama terbaik, seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orangtuanya. Orangtuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah orangtuanya itu sholih atau tholih (lawan dari sholih). Sebagaimana orang arab pun mengatakan,

مِنْ اِسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ
"Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu."

Dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan. Lihatlah bagaimana jika seseorang diberi nama "Musa". Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa alaihis salam. Oleh karena itu, pemberian nama yang baik di sini termasuk menyebar sunnah hasanah di tengah-tengah umat. Maksud kami ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
"Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu." (HR. Muslim no. 1017).

Dari penjelasan diatas, ini merupakan di antara urgensi memberi nama yang baik pada seorang anak.



2.3  Waktu Terbaik dalam Pemberian Nama Menurut Islam
            Mengenai waktu terbaik dalam pemberian nama dapat kita lihat dalam hadits-hadits berikut.
Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وُلِدَ لِىَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِى إِبْرَاهِيمَ

"Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku yaitu Ibrahim." (HR. Muslim no. 2315).

Dari Abu Musa, ia mengatakan,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ ، وَدَفَعَهُ إِلَىَّ ، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِى مُوسَى .

"Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku." Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa."(HR. Bukhari no. 5467, 6198 dan Muslim no. 2145).

Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari hadits Abu Musa di atas, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Musa bersegera membawa bayinya yang baru lahir kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu ditahnik setelah diberi nama sebelumnya.Dalil ini menunjukkan bahwa bersegera dalam pemberian nama pada anak itu lebih baik, dan tidak mesti menunggu pemberian nama pada hari ketujuh."
Al Baihaqi mengatakan, "Hadits yang membicarakan pemberian nama pada anak di hari kelahiran lebih shahih daripada hadits yang menunjukkan pemberian nama pada hari ketujuh."
            Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tasmiyatul Mawlud mengatakan, "Terdapat dalam sunnah Nabi shalllallahu alaihi wa sallam bahwa pemberian nama itu ada tiga waktu:
1.      Di hari kelahiran,
2.      Sampai hari ketiga dari hari kelahiran,
3.      Di hari ketujuh dari kelahiran,
Perbedaan ini adalah perbedaan variatif dan dalam hal ini ada kelonggaran untuk memilih salah satunya."
            Apa yang disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid sama halnya dengan yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Mawdud. Namun sebagaimana kata Ibnu Hajar di atas, dalam pemberian nama lebih cepat itu lebih baik yaitu lebih bagus memberi nama pada hari pertama. Wallahu alam.

2.4  Pemberian Nama dan Nasab Menjadi Hak Ayah (Bukan Ibu)
            Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,"Mengenai pemberian nama menjadi hak ayah itu tidak ada perselisihan di antara para ulama. Hadits-hadits sebelumnya (yang membicarakan tentang pemberian nama, pen) juga menunjukkan akan hal ini. "
Beliau rahimahullah juga mengatakan, "Sebagaimana tidak ada perselisihan bahwa ayah yang berhak memberi nama, maka tidak ada perselisihan pula mengenai masalah anak dipanggil dengan nama ayahnya bukan dengan nama ibunya. Sehingga anak tersebut dipanggil dengan fulan bin fulan (dan bukan fulan bin fulanah, pen). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini, firman Allah Taala,

ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
"Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka."(QS.Al-Ahzab: 5).
            Anak hanyalah mengikuti ibunya dalam masalah merdeka atau budak. Sedangkan ia tetap mengikuti ayahnya dalam nasab dan dalam pemberian nama."
Dalil lain yang dapat kita lihat adalah hadits dari Ibnu Umar, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ فَقِيلَ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ

"Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir kelak di hari Kiamat, maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah bendera si fulan bin fulan'." (HR. Muslim no. 1735).

            Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama bapak mereka (fulan bin fulan), bukan nama ibu mereka (fulan bin fulanah).

2.5  Urutan Nama Terbaik Bagi Anak
1           Nama Abdullah dan Abdurrahman
            Dalam ktab Al Adzkar, Imam An Nawawi Asy Syafii rahimahullah menyebutkan Bab "Penjelasan nama yang paling dicintai oleh Allah". Lantas beliau bawakan dua hadits berikut ini.
Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
"Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman."(HR. Muslim no. 2132).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,
وُلِدَ لِرَجُلٍ مِنَّا غُلاَمٌ فَسَمَّاهُ الْقَاسِمَ فَقُلْنَا لاَ نَكْنِيكَ أَبَا الْقَاسِمِ وَلاَ كَرَامَةَ . فَأَخْبَرَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ « سَمِّ ابْنَكَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ »
"Seorang laki-laki di antara kami ada yang memiliki anak, kemudian dia memberi nama "Al Qasim". Maka kami berkata, "Kami tidak akan menjuluki kamu dengan Abu Al Qasim dan kami tidak akan memuliakannya.Lalu orang tersebut memberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, "Berilah anakmu nama Abdurrahman." (HR. Bukhari no. 6186).

Kedua nama ini memiliki keunggulan dari segi:
a.      Nama ini mengandung sifat penghambaan yang khusus antara hamba dan Allah dibanding dengan nama-nama (yang bersandar pada asmaul husna) lainnya. Karena nama Abdullah mengandung sifat ubudiyah (penghambaan dalam ibadah) dan ini hanya ada kaitannya antara Allah dan hamba. Begitu pula nama Abdurrahman mengandung sifat ubudiyah (penghambaan) karena sifat Ar Rahman adalah sifat rahmat yang khusus antara hamba dan Allah.
b.      Nama berupa penghambaan yang terdapat dalam kedua nama tersebut dikhususkan dalam Al Quran dari nama-nama terbaik lainnya. Semisal dapat ayat-ayat berikut:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
"Dan bahwasanya tatkala Abdullah (yaitu hamba Allah, Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya." (QS. Al Jin: 19).

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al Furqon: 63).

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)" (QS. Al Isro: 110).

c.      Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi nama pada anak pamannya (Al Abbas) dengan nama Abdullah.
d.     Sekitar 300 sahabat Nabi memiliki nama Abdullah.
2           Nama bentuk penghambaan pada asmaul husna lainnya, seperti Abdul Aziz,
Abdul Malik, Abdur Rozaq, Abdul Halim, dan Abdul Muhsin.
3           Nama para Nabi dan Rasul Allah
            Seperti Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa dan Muhammad, yang intinya ada 25 nama Nabi yang disebutkan dalam Al Quran.
            Dari Al Mughirah bin Syu'bah ia berkata, "Ketika aku mendatangi kota Najran, para penduduknya bertanya kepadaku: Sesungguhnya kalian membaca "Wahai saudara Harun". Padahal Musa hidup sebelum Isa berjarak beberapa tahun. Maka ketika aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau pun menjawab:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ
"Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka." (HR. Muslim no. 2135).

Dalil lainnya adalah bolehnya memiliki nama seperti nama "Muhammad", nama Nabi kita. Bahkan nama inilah yang terbaik dari nama para Nabi alaihimus salam lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَسَمَّوْا بِاسْمِى وَلاَ تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِى
"Berilah nama dengan namaku (Muhammad) dan janganlah kalian berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim)".(HR. Bukhari no. 6187 dan Muslim no. 2134).

An Nawawi membawakan hadits-hadits di atas dalam Bab "Larangan berkunyah dengan Abul Qosim dan penjelasan mengenai nama-nama yang disunnahkan." Hal ini menunjukkan bahwa nama para Nabi dan Rasul adalah di antara nama terbaik yang bisa digunakan.
            An Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan, "Dari hadits ini sekelompok ulama berdalil bahwa bolehnya memberi nama dengan nama para Nabi alaihimus salaam, bahkan ini adalah ijma (kesepakatan) ulama. Kecuali Umar bin Khottob yang berpendapat agak sedikit berbeda dalam hal ini."
4.         Nama orang sholeh
            Dalil hal ini sudah disebutkan sebelumnya dalam hadits Al Mughirah bin Syu'bah. Yang paling baik digunakan adalah nama para sahabat karena merekalah generasi terbaik dari umat ini. Seutama-utama dari mereka adalah para Khulafaur Rosyidin, yaitu Abdullah (Abu Bakr), Umar, Utsman, dan Ali.
            Untuk anak perempuan bisa menggunakan nama istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin). Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ada 11:
1.      Khadijah binti Khuwailid;
2.      Saudah binti Zumah;
3.      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;
4.      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;
5.      Zainab binti Khuzaimah;
6.      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;
7.      Zainab binti Jahsy bin Rayyab;
8.      Juwairiyyah binti Al Harits;
9.      Ummu Habibah Romlah binti Abu Sufyan;
10.  Shofiyah binti Huyai bin Akhthab;
11.  Maimunah binti Al Harits.
            Sebagai contoh yang menggunakan nama sahabat adalah anak-anak Az Zubair bin Al Awam. Beliau menamakan sembilan anaknya dengan nama para sahabat yang mengikuti perang Badar. Anak-anaknya tersebut diberi nama:
1.      Abdullah;
2.      Al Mundzir;
3.      Urwah;
4.      Hamzah;
5.      Jafar;
6.      Mushab;
7.      Ubaidah;
8.      Kholid;
9.      Umar.
5.         Nama lainnya yang memenuhi syarat dan adab.

2.6  Syarat dalamPemberian Nama
1.      Menggunakan bahasa Arab.
            Dari sini, menunjukkan terlarangnya menggunakan nama-nama bukan Arab seperti Joseph, Robert, Markus, Julia dan Diana.
2. Memiliki susunan dan makna yang bagus.
            Sehingga dari sini tidak boleh menggunakan nama makruh dan terlarang. Begitu juga terlarang menggunakan nama yang mengandung celaan dan mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya). Oleh karena itu, nama semacam ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai merubahnya.
            Ath Thobari rahimahullah mengatakan, "Tidak sepantasnya seseorang memakai nama dengan nama yang jelek maknanya atau menggunakan nama yang mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya), dan tidak boleh pula dengan nama yang mengandung celaan. Seharusnya nama yang tepat adalah nama yang menunjukkan tanda bagi seseorang saja dan bukan dimaksudkan sebagai hakikat sifat. Akan tetapi, dihukumi makruh jika seseorang bernama dengan nama yang langsung menunjukkan sifat dari orang yang diberi nama. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengganti beberapa nama ke nama yang benar-benar menunjukkan sifat orang tersebut. Beliau melakukan semacam itu bukan maksud melarangnya, akan tetapi untuk maksud ikhtiyar (menunjukkan pilihan yang lebih baik)."
2.7 Adab Dalam Pemberian Nama :
1.      Menggunakan nama sesuai urutan terbaik yang telah kami jelaskan di awal;
2.      Menggunakan nama yang terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit;
3.      Menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan;
4.      Memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya;
5.      Menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya.
            Dari penjelasan adab tambahan ini menunjukkan bahwa nama yang kurang bagus adalah nama yang terdiri dari banyak kata seperti: Andika Syarifudin Guntur Prasetyo, Linggar Simping Pembayun Retno Utami. Nama ini kurang disukai karena orang-orang akan beranggapan bahwa satu nama ini terdiri dari beberapa orang. Inilah sisi kurang bagusnya untuk nama-nama semisal itu.

















BAB III
PROSEDUR PENELITIAN


3.1     Sumber Data
            Sumber data dalam penelitian ini, kami ambil dari daftar absen siswa kelas 4 dan 5 di SD Jatinanggorsebanyak 54 siswa.Kemudian dari data-data tersebut kami tindak lanjuti dengan menyebarkan kuisioner kepada orangtua siswa untuk memperoleh data sejarah dari nama-nama siswa tersebut. Data ini diambil ditujukan sebagai sample untuk bahan kajian sosiolinguistik dalam menganalisis hubungan nama anak dengan orangtua siswa muslim di SD Jatinanggor.
           
3.2 Metode Penelitan
Metode penelitian merupakan suatu cara untuk mendapatkan pemecahan terhadap masalah penelitian. Tujuan umum penelitian adalah untuk memecahkan masalah, maka langkah yang harus ditempuh relevan dengan masalah yang dirumuskan.
      Sesuai dengan masalah yang akan diteliti, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif dan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Hartoto, 2009).
      Lebih lanjut Hartoto juga menjelaskan bahwa, dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembang-kan teori yang memiliki validitas universal.
      Hal serupa dikemukakan oleh Sugiyono (2008: 21) yang mende-finisikan metode deskriptif sebagai,
      “metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, setelah itu melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.”
      Sedangkan penelitian kualitatif penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal,  teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2007: 15).
            Berdasarkan jenis penelitian yang dilaksanakan yaitu deskriptif dan kualitatif, maka metode penelitian yang digunakan adalah survey. Menurut Sugiyono (2007: 12) metode survey merupakan metode penelitian yang gunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakukan dalam pengumpulkan data, misalnya dengan mengedarkan kuisioner, tes, wawancara tersetruktur, dan sebagainya (pelakuan tidak seperti dalam ekperimen).

3.3 Teknik Pengumpulan dan Pengolahan data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumentasi yang dimiliki sekolah berupa biodata siswa. Menurut Sugiono (2006: 129),” Sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen”
Untuk mengetahui hubungan nama anak dengan harapan orangtua muslim, penulis melakukan beberapa tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.      Mendapatkan data berupa daftar absen siswa kelas 4 dan 5 di SD Jatinanggor.
2.      Membagikan kuisioner kepada orangtua siswa untuk mengetahui latar belakang penamaan dari para siswa kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor.
3.      Melakukan pengolahan data yang telah didapat, kemudian melakukan analisis untuk mendapatkan hubungan dari nama-nama siswa dengan harapan orangtuanya yang muslim.
4.      Berdasarkan analisis tersebut akan ditarik kesimpulan.
Seperti yang sudah penulis jelaskan, bahwa metode penelitian yang kami pakai merupakan penelitian survey dan bersifat sederhana.Penulis hanya mengumpulkan data-data dan mengolahnya untuk menarik kesimpulan.

3.4 Instrumen Penelitian
            Instrument penelitian yang penulis gunakan untuk mengumpulkan dan mengolah   data adalah berupa daftar absen, kuisioner, dan perangkat lunak excel.
























BAB IV
PEMBAHASAN


4.1 Deskripsi Data
            Daftar nama-nama siswa yang dikumpulkan, penulis ambil pada tahun 2011 pada kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor. Pengumpulan data diambil dengan cara pengajuan perijinan kepada sekolah untuk memakail daftar absen siswa, kemudian membagikan kuisioner untuk  sebagai bahan penelitian.   menyebarkan kuisioner

4.2 Analisis Data
            Berdasarkan data-data penelitian yang penulis dapatkan, kami membuat pengelempokan nama-nama siswa kedalam bentuk tabel. Pengelompokan tersebut kami bagi berdasarkan nama, tahun kelahiran, arti nama, alasan pemberian nama, dasar penamaan, dan  bahasa. Untuk lebih jelas kami paparkan gambar tabel pengkelompokan nama-nama sebagai berikut:

Kelas 4 SD Jatinanggor
No
Nama Anak
Tahun Kelahiran
Arti Nama
Alasan
Pemberian Nama
Dasar Penamaan
Bahasa
1
Salshabila Rahayu Ningtyas
2002
Mata air surga
Sumber kasih sayang yang bersih mengalir dari hati yang paling dalam
Agama
Arab, Jawa

2
Tasya Florentina Rahayu
2002
Nama klub sepak bola Itali dan cantik
bisa dijadikan nama anak cantik
perisiwa
Barat, Jawa

3
Dinar Rahayu Putri
2001
putri yang cantik
Tanda kasih sayang ke anak
peristiwa
Arab, Jawa
4
Ayi mulyadi
2000
anak yang berhati mulya
agar cita-citanya diridoi alloh
Agama Islam
Sunda
5


Alvin Solihin


2002


anak yang kuat dan soleh

semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan anak yang soleh
Agama Islam


Barat, Arab


6
Alda Santos Ramadhan
2001
lahir di bulan ramadhan
semoga kelahirannya menjadi berkah bagi dirinya dan orangtuanya
Agama Islam
Barat, Arab

7
Asrie Apriana
2002
rie lahir bulan januari apriana nama ayah
mudah dihapal
peristiwa
Sunda,

8
Gingin Puspilawati
2002
nama kakek dan neneknya
-
peristiwa
Jawa
9
Ibad Badriah
2001
perang badar
karena waktu melahirkannya susah seolah-olah perang  jadi dinamakan ibad bad'riah
peritiwa
Arab


10
Raihan Al ansori
2002
wawangian angin surga dan penolong
supaya menjadi yang sholeh yang selalu menolong sehingga membawa harum angin surga
Agama Islam
Arab


11
Ridwan Romadhon
2001
malaikat ridwan dan bulan ramadhan


berahlak yang baik seperti malaikat ridwan di bulan suci
Agama Islam
Arab

12
Reihan Nur fauziah
2002
bunga yang bercahaya
Bunga yang bercahaya disenagi setiap orang
Agama Islam
Arab

13
Syifa Ainnunisa
2001
syifa : obat

semoga pancaran mata perempuan yang dapat menjadi obat penenang hati
Agama Islam
Arab
ainun : mata

nisa : perempuan

14
Setiawan
2002
Setia
semoga menjadi anak yang setia penurut
peritiwa
Sunda
15
Vinny Aulia
2002
Vinny  : datang
harapan orang tua menjadi anak pintar
peritiwa
Barat, Arab
aulia   :  Ilmu

16
Fajar Dani
2002
fajar    : lahir pagi hari
lahir membawa awal sinar kebaikan
peristwa
Arab,
Dani    : dari kakanya yaitu

Ida dan Toni

17
Mulyana Dentiana
2002
mulya  artinya mulia
mulya didepan alloh dan orang yang setia
Agama Islam
Arab
dentiana artinya setia

18
Nurul latifah
2001
nurul artinya soleh
menjadi anak soleh dan pintar
Agama Islam
Arab
latifah artinya pintar








19


Dhika Muhammad Rokhman

2002


Dhika artinya anak kedua
semoga menjadi anak yang dapat ditauladani dan penyayang.
Agama Islam


Arab


muhammad ingin menjadi

tauladan seperti nabi

Rohman artinya penyayang

20
Indah Fatimah
2002
Indah artinya bagus, Fatimah putri Rosululloh
jadi anak yang baik seperti putri rosululloh
Agama Islam
Indonesia, Arab

21
Bintang Putri Aristya Julianti
2002
bintang artinya benda langit
semoga cita-citanya tercapai setinggi tingginya, dan anaknya cantik.
peristiwa
Indonesia Barat
putri artinya mejadi anak

cantik seperti putri

aristia nama seseorang yang disukai

22
Vielda Nur'aida
2002
Viel artinya bunga bugenviel
bagaimanapun suasananya dia akan memberikan keindahan dimata keluarga dan sekitarnya.
Agama Islam
Barat, Arab
Da artinya dari nama saya

nur artinya cahaya

ai/ainun artinya mata




23


Divani Fauzia Harnum

2002


Diva artinya Bintang yang
menjadi anak yang selalu dipuja dan membawa harum.
Peristiwa


Barat, Jawa

selalu di puja.

Harnum artinya harum

24
Anthon Herdiansyah



2002
thon diambil dari huruf fathonah
jadi anak yang  taat /amanah bagi bangsa dan negara
Agama Islam
Arab

25
Nurhasanah
2002
Nur cahaya
semoga menjadi cahaya kebaikan
Agama Islam
Arab
Hasanah baik

26
Sri Widiani
2002
sri menurut bahasa sansekerta
 Widiani masih diijinkan oleh yang Maha Kuasa untuk anak ke tiga
peristiwa
Jawa,
artinya 3.



27
Rosmalia
2001
Ros artinya bunga ros
banyak disukai,disenangi orang-orang dan mulia hatinya
peristiwa
Sunda
malia artinya mulia






























Kelas 5 SD Jatinanggor
No
Nama
Tahun Kelahiran
Arti nama
Alasan
Pemberian Nama
Dasar Penamaan
Bahasa
1
Adam Helmy Ananda Wibowo
2001
Anak pertama
Ingin menjadi sholeh. Pintar, masuk syurga, dan patuh pada orangtua
Agama Islam
Arab, Jawa
2
Ahmad Luthfi Hamlal Basyar
2001
Yang terpuji, yang lembut, yang membawa kabar
Ingin punya anak yang terpuji, yang selalu membawa kabartentang balasan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh
Agama Islam
Arab
3
Anita Yuliani Andini
2001
Agung/putrid bangsawan, bulan Juli, wanita cantik
Ingin menjadikan anak yang cantik, shaleh, berbakti pada orangtua dan selalu ditinggikan derajatnya.
Peristiwa
Jawa
4
Auliya Shidqiya Azzahra
2001

Pemimpin orang yang benar dan mengagungkan
Menjadi anak yang sholeh, suri tauladan wanita, jujur dan berbakti pada orangtua.
Agama Islam
Arab
5
Cecelia Sandra Bayanudin
2000
Irama musik yang berbunga untuk orang-orang yang beriman
Bunga mekar yang dialuni oleh orang-orang beriman. Dan menjadi anak yang soleh disaat besar dan berguna bagi keluarga.

Barat, Arab
6
Danastri Zakka Muthia
2000
Bidadari yang cantik dan damai
Agar menjadi anak yang soleh, pandai, dan patuh pada orangtua

Jawa
7
Eidrus Gasim Shabab
2001
Menyenangkan hati
Agar bisa menyenangkan orang-orang terutama orangtuanya
Agama Islam
Arab
8
Firyal Fadiyah R.R
2000
Putrid kemenangan di bulan Ramadhan, anak Rosanda
Menjadi anak yang soleh, sehat, pintar, berguna bagi nusa, bangsa, agama dan orangtua.
Agama Islam
Arab
9
Lazuardi Nadziva
2001
Penjaga bumi yang bersih
Menjadi anak yang soleh, pintar, cageur, bener, singer, gede milik, berbakti sama orangtua, sukses.

Barat
10
M.Fadhlan Jiyad Ramadhan
2001
Karunia terbaik di bulan Ramadhan
Menjadi anak yang baik dan sholeh terutama di bulan Ramadhan
Agama Islam
Arab
11
M.Rizki Arsy
2001
Tempat yang paling tinggi/mulia
Ingin menjadi anak yang berakhlak mulia
Agama Islam
Arab
12
Muh.Fathan Ibadurrohman
2001
Kemenangan
Menjadi anak yang sholeh dan mendapat kemenangan di mana saja dan kapan saja.
Agama Islam
Arab
13
Shali Anggia Rahmani
2001
Shali : shalat; Anggia singkatan dari anak gungun – Isti yang pertama: Rahmani selalu disayang Allah

Semoga menjadi anak yang selalu menjalankan shalat dan juga selalu diberi limpahan kasih saying oleh Allah SWT.
Singkatan, Agama
Arab
14
Abdan Raffi Banin Sokiswo
2000
Hamba yang tinggi derajatnya dan bijaksana kaya sejahtera
Menjadi hamba yang bijaksana dalam bertindak dan berfikir dan mendapat derajat yang tinggi karena ketaatannya pada Allah SWT
Agama Islam
Arab, Jawa
15
Ali Morteza Imaduddin
2000
Orang yang diridhoi sebagai penegak agama/din
Mempunyai sifat dan karakter seperti Ali bin Abi Tholib
Agama Islam
Arab
16
Amira Kireina Novelia
2001
Putri cantik yang lahir di bulan November
Menjadi anak yang cantik paras dan hatinya, serta menjadi anak yang solehah dan pintar
Peristiwa
Arab, Barat
17
Aufa Qaulan Karima
2000
Selalu menepati janji dan berkata mulia
Menjadi anak yang selalu menepati janjinya dan memenuhi apa yang menjadi tanggung jawabnya, serta selalu berkata mulia kepada orangtua, guru, teman, dan yang lainnya
Agama Islam
Arab
18
Aziman Shiddiq Makarim

Orang yang memiliki keinginan kuat
Memiliki keinginan yang kuat untuk selalu benar dan memiliki sifat-sifat mulia
Agama Islam
Arab
19
Dhia Empilia Syaumi Mumtaz
2000
Cahaya yang Istimewa lahir di bulan Ramadhan anak dari Nenk dan Ipin
Supaya menjadi cahaya keluarga. Anak yang menapatkan keistimewaan pada bulan Ramadhan
Peristiwa
Arab
20
Ilyas Muhammad Rafi
2001
Nama nabi,  meninggikan derajat
Menjadi pribadi yang meninggikan derajatnya sendiri dan orangtua, sebagaimana para nabi telah melakukannya
Agama Islam
Arab
21
Isyaq Muhaqqiq Thalibullah
2001



kerinduan , hakikat, penuntut ilmu Allah
Menjadi anak yang selalu rindu terhadap ilmu Allah
Agama Islam
Arab
22
M. Nazrey Al-Gifari
2001
Orang terdepan ketika perang
Menjadi anak sholeh, berguna dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain
Agama Islam
Arab
23
Nurul Izzah
2000
Cahaya Kemuliaan
Supaya menjadi orang yang membawa cahaya kemuliaan yang menerangkan kepada manusia supaya taat dan patuh pada perintah Allah.
Agama Islam
Arab
24
Putri Novia Agustina
2001
Seorang perempuan yang dihormati,; pendatang baru ;lahir di bulan Agustus
Sebagai anak pertama yang merupakan pendatang baru sebagai anugrah dari Allah SWT menjadi generasi Islam yang mulia
Peristiwa
Indonesia, Barat
25
Rifa Naurah Waddiah
2000
Bunga yang indah
Semoga menjadi anak yang sholehah bagaikan bunga dalam keluarga yang selalu indah
Agama Isam
Arab
26
Salma Nurul Izzah
2000
Selamat; cahaya; keagungan
Agar selamat di dunia dan akhirat dan menjadi cahaya yang membanggakan orangtuannya
Agama Islam
Arab
27
Zahra Nurul Qiromi
2001
Bunga; cahaya; karomah
Semoga dalam hidupnya selalu menjadi bunga yang yang memancarkan cahaya/karomah
Agama Islam
Arab

Ket:              Bahasa Daerah  = 14                  Bahasa Indonesia = 3
                     Bahasa Arab      = 41
                            Bahasa Barat     = 11
            Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa nama-nama siswa kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor terjadi hubungan erat antara nama anak dengan harapan orang tuanya sebagai seorang muslim. Dilihat dari arti nama masing-masing siswa menunjukan makna nama yang mengagungkan, kemulyaan, kebaikan, kegagahan, kelembutan, pesona yang menawan, penghambaan, dan ketaatan. Para orangtua berusaha memberikan nama-nama anaknya dengan nama yang terbaik menurut mereka. Ada banyak hal yang mendasari orangtua siswa memberikan nama anaknya seperti penamaan yang diambil dari nama tokoh, nama club sepakbola, nama sifat, nama bulan, nama silsilah keluarga, nama panca indra, nama-nama goib, nama gabungan kata, nama tingkatan anggota keluarga, makna kedudukan, nama tumbuhan dan nama peristiwa.
            Dilihat dari segi bahasa, para orang tua muslim di sekolah tersebut sudah banyak terjadi percampuran bahasa antara bahasa lokal/ daerah dengan bahasa asing yaitu dari timur tengah dan barat. Dari sekian banyak nama siswa yang kami teliti, banyak orangtua muslim yang memakai bahasa pada penamaan anaknya dengan bahasa timur tengah yaitu bahasa arab. Mereka cenderung memberi nama anaknya atas dasar nilai-nilai agama islam, sebagai bentuk perwujudan jati diri mereka sebagai seorang muslim. Bahasa lain yang digunakan orang tua muslim yang memberi nama anaknya dari bahasa Daerah, Indonesia, dan bahasa dari pengaruh budaya Barat. Untuk lebih jelas kita bisa melihat tabel persentase perbandingan percampuran bahasa dalam penamaan anak oleh orang tua muslim di kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor sebagai berikut:
No.
Bahasa
Jumlah
Persentase %
1
Daerah
14
26 %
2
Indonesia
3
5 %
3
Arab (Timur tengah)
41
76 %
4
Barat
11
20 %
Tabel: Persentase Pencampuran Bahasa Pada Nama Anak

            Dari tabel diatas kita dapat mengambil gambaran, bahwa pengaruh sosial, budaya, agama, politik, dan ekonomi bisa mempengaruhi kepribadian individu, terutama mempengaruhi pola fikir individu tersebut. Pola fikir yang terbentuk dalam pribadi seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Khususnya dalam persoalan ini, orang tua yang memberi nama anaknya tergantung pola fikir yang ia bentuk dalam dirinya. Ketika pengaruh agama islam dari timur tengah masuk ke Indonesia, secara perlahan masyarakat Indonesia mulai terewarnai oleh nilai-nilai dan budaya agama Islam, sehingga pola fikri pribadi muslim pun terbentuk di tengah-tengah masyarakat.
            Sumber data-data penelitian tentang hubungan nama anak dengan harapan orang tua muslim  yang kami kaji, ini merupakan salah satu bukti dari pengaruh nilai-nilai dan budaya islam yang masuk dan membentuk pola fikir orang tua muslim di kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor dalam memberi nama anaknya. Dari total keseluruhan 54 nama-nama siswa di kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor, persentase yang paling tinggi sekitar 76% memakai bahasa Arab. Dari pemaknaan yang menjadi dasar penamaan siswa-siswa tersebut, para orang tua muslim memiliki harapan terhadap anaknya supaya nilai-nilai islam yang mereka tanamkan melalui nama-nama anaknya bisa terbentuk dalam pribadinya, dan terwujud dalam perbuatannya sebagaimana seorang muslim yang sejati.  
            Percampuran bahasa lain dari nama-nama siswa kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor ada sekitar 14% memakai bahasa daerah, 3 % bahasa Indonesia, dan 11 % orang tua mulai terwarnai oleh pengaruh budaya Barat.
            Memang sudah tidak bisa kita pungkiri, bahwa budaya Barat saat ini sudah mulai mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Apalagi Indonesia sebagai umat Islam terbesar dunia, sudah mulai terkikis dan tergantikan nilai-nilai dan budaya masyarakat muslimnya dengan Bangsa Barat. Ini merupakan sebuah ancaman bagi umat Muslim di Indonesia, khususnya bagi para orang tua muslim Indonesia harus mulai ambil sikap untuk memprotek keluarganya dari pengaruh negative nilai-nilai dan budaya barat saat ini.
            Salah satu dampak yang terihat pada saat ini dari pengaruh budaya barat adalah harapan orang tua terhadap nama anaknya yang mengidolakan artis-artis, tokoh-tokoh dan nama-nama dari istilah barat supaya terlihat modern. Ini bukanlah modernisasi sebagaimana harapan orang tua pada anaknya, tetapi ini merupakan westernisasi, yang mana para orang tua harus menyadari dari dampak negativnya.     























BAB V
PENUTUP


5.1 Simpulan
            Bedasarkan kajian kita diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa kedudukan nama pada seseorang berfungsi sebagai bahasa komunikasi dan identitas diri dari pemilk namanya. Kedudukan nama bukan hanya mewakili identitas diri dari pemiliknya, tetapi bisa juga mewakili jalan pikiran dari orang tuanya.
            Nama yang diberikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri pemilik namanya
            Dalam Islam nama adalah doa. Orangtua muslim di kelas 4 dan 5 SD Jatinanggor cenderung memberikan nama-nama anaknya diambil dari bahasa arab, yang mengandung makna nilai-nilai islami. Hal ini bisa menggambarkan bahwa sebagai orangtua muslim, antara nama anak dengan harapan orang tuanya menjadi sesuai. Namun orangtua muslim yang sudah terpengaruh budaya barat, cenderung memberikan nama anaknya dengan nama-nama kebarat-baratan. Kondisi seperti ini mengakibatkan antara harapan orangtua muslim dengan nama anaknya menjadi tidak sesuai.
.
5.2 Saran
            Sebagai seorang muslim sebaiknya kita selaku orangtua bisa memberikan nama-nama yang baik bagi anaknya sesuai dengan tuntunan agama Islam. Walau pengaruh budaya barat sudah menyebar dimasyarakat, namun kita sebagai orangtua muslim harus mampu bersikap bijak untuk memberikan nama-nama yang baik sebagai identitas seorang muslim pada diri anaknya.


DAFTAR PUSTAKA


Aslinda dan Syafyahya, Leni.2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika
            Aditama.
Kartasasmita, Anna Mariana. 2008. Pengaruh Nama Pada Anak.Tersedia Dalam:
            www.dakwatuna.com . 26 November 2011.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
            dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumarsono dan Partana, Paina. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda. 

Suaramerdeka.(2011).Do'a Serta Harapan Di Balik Nama Bayi. Tersedia Dalam:

            Suaramerdeka.com. 26 November 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar